
Gunawan Tri Atmodjo merupakan pengarang yang terkenal dengan karya-karyanya yang liar. Salah satu bukunya memiliki judul yang cukup menarik perhatian: “Pelisaurus”. Bayangan macam apakah yang timbul di benak kita ketika membaca judul buku semacam itu? Keliaran Gunawan Tri Atmodjo juga muncul dalam buku terbarunya yang berjudul “Musuh Bebuyutan”.
Novel “Musuh Bebuyutan” ini terbit pada bulan Oktober tahun 2022. Memiliki ilustrasi sampul yang menggambarkan perang dingin antara dua orang musuh bebuyutan. Dengan ketebalan 128 halaman, buku ini terasa lumayan tipis untuk sebuah novel.
Dalam novel ini, ternyata buku “Pelisaurus” juga disinggung oleh narator dalam pembukaan cerita sebagai buku langka yang hendak dikoleksi oleh tokoh utama.
Selain buku dengan judul absurd di atas, ada juga buku karya Gunawan Tri Atmodjo lainnya yang juga disebut dalam novel ini. “Sundari Keranjingan Puisi” disebut pada halaman 36 dengan sedikit modifikasi judul menjadi “Sundari Keranjingan Efendy”. Alusi-alusi semacam ini bertebaran pada novel “Musuh Bebuyutan” menjadi semacam kode-kode tersendiri dari penulis kepada pembacanya.
Humor Kasar dan Dendam Canggung di Tempat Kerja
Novel ini berkisah tentang seorang penyunting naskah bernama Trijoko yang memiliki dendam di masa lalu dengan kakak kelasnya sewaktu SMA yang merupakan rekan kerja di tempat kerjanya yang baru. Hubungan yang canggung antar keduanya karena terlibat masalah di masa lalu bertahan dari awal sampai akhir novel.
Trijoko yang semasa SMA dirundung oleh Dwitejo karena dengan tak sengaja memegang payudara pacar dari Dwitejo, tetap menjadi orang yang selalu kalah meskipun di dunia kerja posisi Trijoko lebih menguntungkan dibanding Dwitejo.
Dengan segala masalah dan dendam yang dibawa selama bertahun-tahun, dunia kerja di sebuah penerbitan kecil itu terasa mengasyikkan ketika dikisahkan oleh Gunawan Tri Atmodjo dalam novel “Musuh Bebuyutan”. Dengan gaya penceritaan yang penuh humor dan hal-hal tanpa sensor.
Metafiksi, Narator Cerewet, dan Ejekan atas Prosa Indonesia
Sebagai novel metafiksi, yakni novel yang menyadari kefiksiannya, narator bergerak begitu leluasa. Berkomentar sana-sini dalam cerita yang sedang diceritakannya. Seperti misalnya alusi tentang sepak bola, film, dan komentar-komentar lainnya.
Kemetafiksiannya juga terasa menghidupkan penokohan dari masing-masing tokoh. Karena penokohan yang kuat tersebut, satu dua tokoh terasa seolah bakal dimunculkan kembali tetapi ternyata tidak. Misalnya saja tokoh bernama Kulup. Tokoh tersebut dijuluki Kulup karena kulup kemaluannya yang gondrong meski sudah disunat.
Kemetafiksiannya juga membuat narator dengan leluasa mencatut nama penulis fiktif “Agus Bambang Wiyanto” dan karya-karyanya yang berkisah tentang tokoh-tokoh yang juga dikisahkan dalam novel ini.
Seperti kalimat, “Perihal kisah cinta platonik antara Efendy dan Sundari ini bisa dibaca dalam novel Sundari keranjingan Efendy buah karya Agus Bambang Wiyanto.” Sundari Keranjingan Efendy sendiri barangkali mengacu pada buku “Sundari Keranjingan Puisi” karya Gunawan Tri Atmodjo sendiri yang diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada tahun 2015.
Pada halaman 120, narator melancarkan otokritik terhadap novelnya sendiri dan juga sastra Indonesia secara umum. “Mengapa Sundari menikah dengan Efendy dan bukan dengan lelaki lain? Jawabannya sederhana saja, karena ini adalah prosa Indonesia, harus ada unsur kebetulan di dalamnya, kalau bisa jumlah kebetulan itu banyak.”
Paragraf di atas seolah mengejek prosa Indonesia dengan tradisi “kebetulan”-nya dalam menciptakan plot. Narator bisa sekaligus menjadi komentator yang banyak bicara. Tentang kisah yang sedang dikisahkan, tentang karya lain yang berada di luar lingkup karya itu, bahkan sampai dengan sepak bola dan film.
Antara Patahan Cerita dan Ruang yang Terlalu Sempit
Teknik metafiksi juga memungkinkan seorang penulis melakukan patahan-patahan. Mengakhiri cerita sebelum waktunya, misalnya, bergerak semau sendiri, menjadi antiklimaks dan sebagainya. Kita seolah sedang berhadapan dengan narator yang hidup dan memiliki kehendak bebas.
Dengan gaya penceritaan seperti itu kita sebagai pembaca merasa sedang berada di lingkaran pergunjingan. Kisah yang dituturkan terasa begitu meyakinkan.
Tetapi sayang sekali novel ini terasa terlalu tipis dengan ketebalan yang hanya 128 halaman. Jadi banyak cerita dan tokoh yang tidak terekspos lebih banyak karena ruang yang lumayan sempit. Konflik besar yang disajikan juga hanya berada di bagian akhir novel dan sisanya adalah penokohan dan konflik-konflik kecil. Novel ini terselamatkan oleh gaya berceritanya yang asik.
Judul : Musuh Bebuyutan
Penulis : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit : Diva Press, 2022
Tebal : 128 hlm.
Dimensi : 13 x 19 cm.
ISBN : 978-623-293-728-4



