Senjakala Gorengan (?), Senjakala Kita (?)

Gorengan
Sumber banjarbaruklik.com

Apa yang menarik dari pemandangan di pinggir-pinggir jalanan kita? Adalah Melihat gorengan dijajahkan, ditata sedemikian rapih bertumpuk di tiap pagi, siang, sore hingga malam hari. Kita sedang melihat Indonesia pada saat itu.

Gorengan agaknya tidak pernah absen menemani hari-hari masyarakat Indonesia. Perjumpaan kita, masyarakat Indonesia kebanyakan, dengannya adalah perjumpaan sejak dini barangkali. Tak terkecuali aku.

Gorengan pernah mengisi pagiku lebih intim Ketika aku memutuskan merantau-menimba ilmu di kota Solo. Tiada pagi yang terlewatkan begitu saja tanpa secangkir kopi dan gorengan. Kebiasaan yang terus berlanjut sewaktu aku memutuskan merantau-kerja di Jakarta.

Kebiasaan bergorengan sepertinya sudah mendarah daging. Mengakar sedemikian erat dalam keseharian. Bagaimana tidak. Aku yang Kini memutuskan kembali ke kampung halaman, Brebes, ternyata masih mencari cara untuk bergorengan. Usaha tak pernah gagal. Bergorengan kini meminta waktu siang.

Potret Keseharian Gorengan di Indonesia

Sekali lagi. Gorengan begitu indonesia, lebih jauh lagi barangkali sangat pancasilais. Sebab ia terbukti berhasil menyatukan semua jenis kelas sosial, agama, suku dan partai politik dalam kudapan yang sama setiap harinya. Keterleburan antar warga sering terjadi ketika sedang bergorengan. Tentu kita sudah jamak melihat dan terlibat dalam prosesi mengudap gorengan, obrolan perihal urusan publik, ekonomi, politik, budaya, hingga yang remeh temeh berkaitan dengan urusan publik. Ruang publik terbukti terbentuk di sana dan saat itu.

Ngerasani gorengan dan aktivitasnya yang Indonesia lagi pancasilais dan yang juga sebagai ruang publik kita. Membuat kita perlu melirik bahkan melihat ulang proses gorengan hingga sampai ke tangan kita. Sebab kita seringkali luput, abai dengan sesuatu yang rutinitas dan dekat. Akhirnya kita butuh jarak guna membangunkan diri dari segala yang rutin dan dekat.

Terbentangnya jarak antara kita dengan sesuatu muncul sebab dimungkinkan oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam seringkali hadir oleh ikhtiar kita sendiri lewat jalan permenungan. Lain lagi dengan faktor luar, ia hadir oleh ketakterdugaan yang menarik kita untuk menjarak, merenung.

Hal tersebut sedang terjadi akhir-akhir ini. Kita sedang disuruh menjarak dengan gorengan melalui pelarangan minyak goreng curah. Kok bisa. Bisa kok. Gini loh. Gorengan yang sering banyak dijajakan dan kita nikmati saban hari kebanyakan hasil olahan menggunakan minyak goreng. Jenis minyak goreng curah yang banyak digunakan oleh penjaja gorengan.

Murah adalah kata yang tepat untuk minyak goreng curah. Murah yang tepat itu katanya ternyata mengandung bahaya bagi kesehatan. Tetapi tidak bagi kantong dan masa depan ekonomi kita.

Sudah bisa dipastikan minyak goreng curah yang dianggap bahaya, yang akan dilarang, tentu akan membuat khawatir dan kebingungan bagi penjual gorengan dan tentu penjual-penjual lain yang telah lama mengolah jualannya dengan minyak goreng curah. Akankah para penjual berhenti berjualan atau tetap berjualan dengan menaikan harga gorengan atau jualanya.

Gorengan sebagai Ruang Publik dan Ekonomi Kerakyatan

Di kota-kota besar kebanyakan pekerja mall dan pabrik dengan penghasilan Upah Minumun Regional (UMR) atau dibawahnya. Mereka adalah masyarakat Indonesia kebanyakan dengan penghasilan yang sebagian kecil saja masuk ke tabungan atau mungkin malah belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka memilih makan dari pedagang kaki lima yang salah satunya adalah penjual gorengan.

Penjual gorengan atau Pedagang Kaki Lima atau penjual pengguna minyak goreng curah dapat kita masukan kedalam jenis Usaha Mikro Kecil Menengah atau lebih pendeknya UMKM, versi Departemen Perindustrian dan Perdagangan maupun Badan Pusat Statistik (BPS). UMKM adalah solusi kita untuk menekan pengeluaran dan menstabilkan kondisi ekonomi rumah tangga kita.

Konon, Ketika krisis terjadi, UMKM berhasil lolos dari jeratanya dan didapuk juga sebagai “Si Penyelamat”. Keberadaan UMKM adalah keberadaan Indonesia, ia hadir dan deket dalam kehidupan kita sehari-hari. Ia tak mau berjarak dan selalu menghadapi peminggiran. Tak berulah muluk-muluk apalagi mengeruk untung sebanyak-banyaknya. Eksistensinya adalah gambaran kondisi ekonomi kita, masyarakat Indonesia kebanyakan. Tak terkecuali penjaja gorengan.

Rohmat Hadiwijoyo, Ketua Dewan Direktur CIDES (Central For Information and Development Studies), dalam Kompas online tertanggal Rabu, 28 Maret 2012 dalam rubik Ekonomi, mengatakan. Mari kita simak. “Tiga faktor yang membuat UMKM bertahan. Pertama, umumnya UMKM menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, Faktor kedua yakni pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik itu untuk sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. Faktor ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri.”

Semangat dan jiwa UMKM pada dasarnya adalah semangat dan jiwa gorengan. Sebagai makanan khas Indonesia, gorengan belum jemu menemani dan mengingatkan kita. Ia adalah representasi perekonomian kita yang sesungguhnya. Ekonomi yang bertumpu pada muasal, ekonomi kerakyatan. Yaitu ekonomi sebagai usaha saling memenuhi kebutuhan, saling ngerti – mengerti dan tolong menolong satu sama lain demi kelangsungan hidup. Bukan sebaliknya, kejar mengejar untung hingga buntung.

Ketika Kebijakan Menjauh dari Gorengan

Di Kemarau yang masih singgah, apalagi roman-romannya masih lama, anginya silir semilir berhembus. Menikmati secangkir kopi dan gorengan adalah pilihan tak terelakan lagi memberi harapan. Walau kesemilirannya yang berhembus itu selalu membisiki kita, perihal kondisi ekonomi yang sedang lunglai, lesu dan hampir gatal-gatal.

Untuk kedua kalinya, pelarangan menggunakan minyak curah ketika kondisi sedang seperti itu adalah kebijakan yang tak bijak. Lebih jauh lagi, ia agaknya sebentuk ikhtiar mengagalkan kenikmatan bergorengan kita di musim kemarau. Sebuah Kenikmatan yang sedang berharap, berpikir dan me-laku dalam kerja-kerja ber-Gorengan, ber-UMKM, ber-Ekonomi, beruang publik dan berkewargaan khas Indonesia. Atau malah jangan-jangan, itu sebentuk pesan simbolik bahwa kita tengah dibuat senjakala. Semoga bukan!

Kalau saya sedang tidak salah, Bung Hatta dalam bukunya berjudul “Demokrasi Kita” pernah menegaskan bahwa demokrasi Indonesia bukan demokrasi barat yang melupakan ekonomi. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, ekonomi dan politik.

Hamdan Wijaya
Hamdan Wijaya

Seorang Ayah Penikmat Kopi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *