Mengusik Hegemoni Pop Culture dan Menafsir Pesan Tersirat di Balik Kata

Budaya Pop Culuture
Sumber Kompasiana.com

Di era serba cepat, di mana arus informasi datang seperti banjir bah, tiba-tiba dan tidak terkira apa yang sedang datang bersamanya. Kita mungkin akan gagap, kaget, bahkan tidak siap. Namun ia tidak peduli akan kesiapan kita. Kita dipaksa untuk menghadapinya, bahkan seringnya menelan mentah-mentah apa yang datang di hadapan kita.

Seperti kata Walter Benjamin, “setiap pagi kita dihadapkan pada berita-berita yang berasal dari seluruh penjuru dunia, tetapi kita masih tetap kekurangan cerita-cerita yang layak. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi peristiwa yang datang kepada kita tanpa terlebih dahulu disertai penjelasan. Dengan kata lain kini nyaris tidak ada apapun yang bermanfaat dari dongeng, semua yang bermanfaat hanyalah informasi”.

Berangkat dari apa kata Walter Benjamin, jika kita renungi informasi yang datang, tiap hari bahkan tiap saat adalah informasi yang datang tanpa terlebih dahulu disertai penjelasan. Pernahkah kita disuguhi latar belakang terjadinya suatu peristiwa sebelum peristiwa itu disuguhkan begitu saja pada kita. Pasti seringnya kita disuguhi berita tentang suatu informasi yang hanya sepenggal. Dan kita dipaksa menelannya mentah-mentah tanpa ada filter terlebih dahulu.

Di era arus informasi yang datang tidak terbendung, melalui pipa-pipa bernama media social Instagram, Facebook, Tiktok, Youtube, dan semacamnya semua didistribusikan secara efisien dan terarah. Sesuai algoritma masing-masing. Setiap orang punya kecenderungan tertentu dalam kanalnya masing-masing dan algoritma bekerja untuk membawa setiap orang pada apa yang mereka sukai. Entah itu style, gaya rambut, pakaian, bahkan gaya hidup, termasuk gaya hidup sehat. Lari misalnya, dan istilah pelari kalcer akhirnya muncul.

Di Sinilah Budaya Pop Berada

Kita sebagai individu yang terpapar informasi terus-menerus tentang pelari kalcer yang kemudian menjadi trend dalam gaya hidup dalam masyarakat apakah akan ikut-ikutan dengan trend tersebut atau tidak? Hal ini berlaku dalam beberapa kasus yang mempunyai pola serupa.

Di sinilah budaya popular (popular culture) berada, jika budaya berlari menjadi gaya hidup yang tiba-tiba kita lakukan, karena seringnya terpapar informasi yang berulang di medsos, maka budaya berlari ini adalah budaya pop yang berhasil menghegemoni kita. Sebagaimana kita tahu budaya popular menurut Raymond William, pertama banyak disukai orang. Kedua, jenis kerja rendahan. Ketiga, dilakukan oleh orang untuk membuat senang orang. Keempat, memang dibuat untuk menyenangkan orang lain.

Jika memang budaya berlari dalam kasus ini adalah keberhasilan dari hegemoni pop culture, pada akhirnya kita akan membeli produk-produk dalam berlari, entah itu baju, celana, sepatu, hingga aksesoris-aksesoris lain yang sebelumnya sama sekali tidak kita butuhkan. Namun berbeda jika dalam kasus ini kita berlari karena suatu kebutuhan atau memang telah menjadi kebiasaan yang telah kita tekuni dan senangi.

Seperti halnya Haruki Murakami, ia seorang novelis yang juga pelari. Ia membuat budaya berlari dalam dirinya seoalah berlari adalah suatu pencarian makna yang cukup dalam dan tentu saja itu bukan kerja rendahan. Bahkan Murakami menulis sebuah buku berjudul What I Talk About When I Talk About Running, karena saking seriusnya Murakami dalam berlari.

Hegemoni di Mata Gramsci

Di era sekarang ini, di mana tiap orang dengan leluasa mengakses media entah itu elektronik ataupun cetak lepas dari jerat hegemoni tampaknya adalah perkara yang mustahil. Sebagaimana kita tahu menurut Antonio Gramsci, kebudayaan merupakan penggerak sentral dalam konsep hegemoni. Kebudayaan sebagai pandangan hidup manusia yang beretika, gaya hidup dan pola perilaku baik individu maupun masyarakat. Transformasi kebudayaan menjadi tujuan dari hegemoni. Perubahan kebudayaan tidak berevolusi dengan sendirinya. Ideologi berubah berkaitan dengan kesadaran manusia yang hidup dalam masyarakat.

Dan hegemoni, lumrahnya berjalan dalam kanal-kanal seperti pendidikan, film, dan media-media. Untuk saat ini peran terbesar sepertinya dipegang media sosial. Di sinilah hegemoni bekerja memberikan informasi-informasi baru, entah itu tren musik, makanan, pakaian, hingga gaya hidup.

Segalanya tampak cepat dan instan, seperti itulah budaya pop. Kemudian kita secara sadar menganggap semua itu wajar. Kita mengadopsi hal-hal baru ke dalam tubuh kita, tanpa kita tahu dari mana hal baru ini berasal. Dan sesuatu yang usang dalam tubuh, diam-diam kita ingin menyembunyikannya jika perlu kubur dalam-dalam agar tak ada yang tahu.

Mungkin semacam inilah orisinalitas atau otentisitas kita akan hilang. Kita merasa malu mengakui asal kita dari mana. Lahir di mana, menyukai warna apa, menggunakan bahasa apa, dan semacamnya. Ada rasa tidak nyaman yang diam-diam dipaksakan. Sebab rasa itu bukanlah perasan kita yang sebenarnya. Celakanya jika ini dipaksakan dan diterus-teruskan, kita akan lindap dalam keasingan yang meniadakan akar atau muasal diri dari mana. Kita begitu bangga menyanyikan lagu-lagu asing K-Pop, misalnya. Tapi terlalu malu menyanyikan lagu dangdut yang sejatinya milik kita.

Generasi yang Miskin Tafsir

Mereka yang mencintai budaya sendiri yang merupakan muasal diri hidup dan bertumbuh, seakan memiliki hidup yang utuh. Pijakan yang kokoh untuk menjalani hidup. Mereka seakan mempelajari dan mengerti nilai-nilai yang terkandung dalam lingkungan, dalam tempat mereka bertumbuh, meski tak jarang nilai-nilai yang masih dipakai dalam lingkungan tempat tinggal seringnya kerap dikaitkan dengan mitos, bahwa ini tidak benar, bukan merupakan fakta dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Tapi apakah memang seperti itu, nilai-nilai itu hanya mitos apa kita sebagai generasi millenial yang miskin tafsir akan nilai-nilai adat yang masih berlaku dalam kehidupan.

Sebagai bocah yang lahir dan dibesarkan di Lamongan, tentu saya tidak asing dengan wejangan dan semacamnya yang kerap kali selalu gampang dikaitkan dengan mitos, hal mistis dan semacamnya dan semacamnya. Banyak sekali contohnya, semisal di waktu kecil saya kerap mendengar orang tua melarang tidak boleh makan di pintu agar rezeki tidak seret, atau jangan bermain menjelang waktu magrib karena sande’olo, dekat dengan cilaka.

Apakah memang seperti itu, kebenarannya. Jika menilik langsung secara harfiah dari pesan-pesan itu, tentu saja kita sebagai generasi kiwari akan dengan mudah mengelak, mencibir dengan nyinyir dan ketidakpercayaan hakiki terhadap dalil-dalil semacam itu.

Namun jika kita melihat konteks, budaya orang jawa, kehidupan, welas asih andap asor. Tentu kita tak akan menghakimi secara harfiah dalil-dalil semacam itu. Kita akan mencoba menafsir dari berbagai sudut pandang. Sebagaimana dalam menafsir karya sastra, puisi misalnya. Meski bersifat subyektif, dalam menafsir puisi kita akan mencoba membaca pesan-pesan tersirat di balik kata-kata, membaca simbol dan semacamnya. Sehingga pisau bedah yang kita gunakan mestinya perlu diasah berulang-ulang. Sebagaimana sudut pandang yang kita gunakan untuk melihat, harusnya lebih dari satu agar kita mendapat tafsir yang beragam.

Mengganggu Dominasi dan Mencari Alternatif Lain

Dalam melawan hegemoni pop culture dan menggali akar otentisitas Lamongan, tentunya tidak mustahil untuk dilakukan, namun perlawanan ini tidak sepenuhnya dilakukan dalam artian penolakan secara mutlak atau total. Melainkan untuk mengganggu dominasi dan mencari alternatif lain yang lebih mewakili suara suatu kelompok tertentu, dan ini yang disebut Gramsci sebagai perjuangan cultural. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengganggu dominasi pop culture.

Misal dalam dunia musik kita mengenal musik-musik indie, sementara dalam dunia perbukuan kita mengenal penerbit-penerbit indie. Mereka inilah suatu contoh bentuk perlawanan akan hegemoni pop, budaya popular yang mereka rasa tidak sesuai dengan idealisme suatu kelompok tertentu. Dengan cara itulah mereka membuat suatu arus yang menyimpang dari budaya pop yang dirasa tidak mewakili idealisme atau suara kelompok tertentu.

Pada akhirnya kita akan menengok ke dalam diri untuk mencari kedalaman makna, suatu yang benar-benar jernih, yang kita miliki dan butuhkan, yang jujur mewakili kita yang sebenar-benarnya kita. Dan membiarkan dunia menilai suara, rasa, atau warna yang kita miliki, bukankan dengan cara semacam itu kita akan benar-benar merasa utuh sebagai entitas yang berbeda dengan yang lainnya dan memijak suatu pondasi yang kokok sebagai pijakan untuk hidup.

Fatah Anshori
Fatah Anshori

Pembaca buku

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *