
Sudut kota Lamongan sore itu tidak sedang ingin berisik. Humanity.kopi juga masih tutup. Namun pukul 15:30 telah pada berdatangan. Padahal acara akan berlangsung pukul 16:00 wib. Di antara kucing dan kursi yang memenuhi halaman, sekelompok anak muda berkumpul membawa antusiasme dan kegelesihan tentang buku yang akan di bedah.
Ya, betul, buku berjudul “Semangat Muda” (1926) garapan Tan Malaka disela persembunyiannya. Karya ini sempat hilang dari peredaran, sekitar 60-an tahun. Dan, berhasil diketemukan sekawanan pemuda.
Diskusi #Jagongan4 ini, bertajuk “Warisan Intelektual yang Terlupakan” yang digelar Rabu 11 Januari 2026, dipantik oleh Alfiandika Arif Pratama, dan di moderatori Zahruddin Fanani. Tidak ada jarak tegas antara pemantik, moderator dan peserta. Semua duduk setara, seolah ingin menegaskan bahwa Jagongan buku ini mengajak membaca zaman dengan setara.
“Semangat Muda” sudah tidak asing bagi sebagian kelompok pemuda, namun, bagian yang lain belum tentu. Buku ini kerap disinggung dalam berbagai macam agenda dan sering juga nongol di berada media. Namun, sering terabaikan.
Di sudut kota Lamongan ini, Semangat Muda ditarik ke meja, dibongkar secara pelan lalu dinarasikan dan dipertanyakan. Apakah semangat muda hari ini masih punya keberanian berfikir, atau hanya cukup untuk bertahan hidup ?
Ketika Semangat Muda Tidak Lagi Berteriak
Alfiandika memulai diskusi dengan nada yang tenang, jauh dari kesan menggurui. Ia tidak datang membawa definisi final, melainkan serpihan-serpihan pengalaman dan pembacaan. Yang saat menarasikan isi buku, sesekali dibarengi merapikan kaca mata yang seoalah akan terjatuh.
Buku Semangat Muda, menurutnya, bukan semata perkara usia atau gairah, melainkan keberanian mengambil posisi—termasuk posisi yang tidak selalu aman. Anak muda hari ini, terutama di kota-kota yang jarang disorot, kerap hidup di persimpangan: ingin bergerak, tetapi tak selalu tahu ke mana harus melangkah.
Soal pengetahuan, Dika, menambahkan bukan alat untuk merasa lebih tinggi, melainkan sarana membebaskan diri dari ketakutan dan kepatuhan buta. Dika menyebut bahwa membaca Tan Malaka hari ini seharusnya tidak berhenti pada kekaguman sejarah, tetapi berlanjut pada pertanyaan praktis: apakah pendidikan yang kita jalani membuat kita lebih berani, atau justru lebih jinak?
Percakapan pun mengalir tanpa nada tergesa. Beberapa peserta menimpali dengan cerita personal: tentang kampus yang terasa semakin pragmatis, tentang ruang diskusi yang makin jarang, tentang pilihan hidup yang pelan-pelan diarahkan pada aman, bukan pada makna.
Zahruddin Fanani menjaga agar diskusi tidak tenggelam dalam nostalgia atau keluhan kolektif. Apakah semangat muda harus selalu hadir dalam bentuk perlawanan terbuka, atau ia juga bisa hidup dalam ketekunan yang sunyi dan konsistensi yang jarang mendapat sorotan.
Humanity.kopi sore itu perlahan berubah fungsi. Ia bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang jeda—tempat anak muda Lamongan berhenti sejenak dari ritme harian, lalu menengok ke dalam.
Percakapan Usai, Pertanyaan Tetap Tinggal
Menariknya, diskusi ini tidak ditutup dengan kesimpulan besar. Tidak ada ajakan heroik, tidak pula memunculkan manifesto baru. Yang tersisa justru pertanyaan-pertanyaan kecil yang dibawa pulang masing-masing peserta.
Tentang pilihan hidup, tentang keberpihakan, tentang apakah menjadi muda hari ini berarti harus selalu terlihat sibuk, atau justru berani meluangkan waktu untuk berpikir.
Sore kian beranjak menuju petang. Kursi mulai digeser, cangkir kopi ditinggalkan setengah kosong, dan satu per satu peserta bersiap pulang. Namun percakapan tidak benar-benar selesai. Ia berpindah bentuk—menjadi renungan di perjalanan pulang.
Di sudut kota Lamongan ini, Semangat Muda tidak dirayakan dengan sorak-sorai. Ia dibicarakan pelan, diuji dengan jujur, dan dibiarkan tidak selesai. Barangkali memang begitu cara terbaik merawatnya: tidak dengan slogan, melainkan dengan kesediaan untuk terus bertanya, meski jawabannya tidak selalu nyaman.



