Ketika Kepemimpinan dan Pemasaran Berangkat dari Makna

Jagongan 2
Sumber Foto Pribadi

Sore itu, Cafe Kedai Megah, menjadi ruang perjumpaan gagasan pada Rabu 24 Desember 2025. Di tempat yang akrab bagi para pegiat literasi itu, diskusi bedah buku “Start With Why” (2019) karya Simon Sinek digelar dalam suasana hangat dan reflektif. Belasan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mendiskusikan tema “Segala Sesuatu Harus Dimulai dari “Mengapa” ?” yang bermakna selalu berawal dari pertanyaan tentang alasan terdalam di balik tindakan manusia.

Acara ini dimoderatori oleh Dadang Wiratama yang membuka diskusi dengan ajakan sederhana namun mendasar. Ia mengingatkan bahwa buku Start With Why tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan dan pemasaran dalam pengertian teknis, melainkan tentang cara manusia memahami tujuan hidup, organisasi, dan gerakan sosial.

Menurutnya, banyak individu dan komunitas bergerak aktif, tetapi perlahan kehilangan arah karena lupa menengok kembali alasan awal mengapa mereka memulai.

Kepemimpinan yang Berakar pada Makna

Sebagai pemantik, Zahruddin Fanani menguraikan gagasan utama Simon Sinek tentang konsep Golden Circle (Lingkaran Emas). Ia menjelaskan bahwa sebagian besar organisasi memulai langkah dari “apa” yang dilakukan dan “bagaimana” cara melakukannya. Namun, kepemimpinan yang mampu menggerakkan justru dimulai dari “mengapa”, yakni keyakinan dan nilai yang menjadi fondasi tindakan.

Zahruddin menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak bertumpu pada jabatan atau struktur formal. Kepemimpinan tumbuh ketika seseorang mampu menjelaskan alasan yang diyakini dan mengajak orang lain untuk percaya pada alasan tersebut.

Dari situlah kepercayaan lahir, dan dari kepercayaan itulah loyalitas terbentuk. Gagasan ini, menurutnya, relevan tidak hanya bagi pemimpin organisasi besar, tetapi juga bagi pemimpin komunitas, pendidik, dan pegiat literasi.

Ia tidak selalu terlihat dalam bentuk instruksi, tetapi dalam konsistensi menjaga nilai dan memberi teladan. “Ketika seorang pemimpin jelas dengan alasan mengapa ia bergerak, orang lain akan mengikuti bukan karena perintah, tetapi karena kepercayaan,” tambahnya.

Pemasaran dan Daya Hidup Sebuah Tujuan

Fanani menjelaskan bahwa Simon Sinek menawarkan sudut pandang berbeda tentang pemasaran. Pemasaran tidak semata-mata soal produk, layanan, atau strategi promosi. Melainkan tentang kemampuan menyampaikan makna.

Dalam pandangan ini, orang tidak membeli apa yang dilakukan sebuah organisasi, tetapi membeli alasan di baliknya.

Gagasan tersebut memantik diskusi hangat di antara para peserta yang hadir. Beberapa peserta menilai bahwa prinsip start with why sangat relevan bagi gerakan literasi di tingkat lokal. Dan tentu ada pula yang mengatakan tidak relevan.

Banyak organisasi komersil dan non-komersil berdiri dengan semangat awal yang kuat, tetapi melemah karena aktivitas berjalan tanpa refleksi tujuan. Ketika “mengapa” tidak lagi dirawat, kegiatan berubah menjadi rutinitas tanpa ruh.

Diskusi juga menyinggung tantangan pemasaran ide dan gerakan di era digital. Di tengah arus informasi yang cepat dan serba instan, pesan yang tidak berangkat dari nilai mudah tenggelam. Para peserta sepakat bahwa baik dalam pemasaran, kepemimpinan, kejelasan alasan menjadi fondasi komunikasi yang berkelanjutan dan bermakna.

Suasana diskusi berlangsung cair dan setara. Tidak ada jarak antara pemantik, moderator, dan peserta. Semua terlibat aktif dalam tanya jawab, berbagi pengalaman, dan refleksi bersama. Cafe Kedai Megah sore itu menjelma menjadi ruang belajar kolektif dan tempat ide bertemu.

Menjelang penutupan, Fanani menegaskan bahwa pertanyaan tentang “mengapa” bukan pertanyaan yang selesai dijawab sekali. Ia adalah pertanyaan yang harus terus dihidupkan seiring perubahan konteks dan tantangan. Diskusi bedah buku ini pun ditutup dengan kesadaran bersama bahwa kepemimpinan dan pemasaran yang berdaya hidup selalu berakar pada alasan yang jujur.

Dari sebuah cafe di Lamongan, bedah buku Start With Why sore itu menegaskan satu pesan penting bahwa segala sesuatu yang ingin bertahan, tumbuh, dan memberi dampak, selalu dimulai dari “mengapa”.

Diakhir acara kami bersepakat berdiri, berbaris, senyum serta membentuk huruf C memakai jari tangan menjalanakn ibadah bernama berfoto.

admin
admin

seorang admin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *