Belajar Membaca Anak Dan Sadar Karma Sejak Dalam Keluarga

Sumber Foto Pribadi

Sebelumnya sempat khawatir, sebab, curah hujan di Lamongan yang tidak menentu. Namun, sore 4 Maret 2026 acara Cedak Buku Jagongan#5, syukur ditemani matahari yang cerah, membuat kegiatan di Babon Angrem di Lamongan berjalan lancar.

Semilir angin sore dan masih sepinya pengunjung Babon Agrem, membuat tempat itu terasa milik sendiri. Selang hitungan menit, keheningan pecah, peserta satu demi satu mulai berdatangan. Kegiatan Jagongan#5 ini berjudul “Luka Lama yang Sengaja Dipelihara” yang diserap dari buku garapan Cecilia Oday berjudul “Duri dan Kutuk” (2025) yang berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 kategori novel.

Pembedah buku Anggitya Alfiansari dan dimoderatori Eka Sulistiya mulai merapikan kondisi. Dan Eka, melanjutkan salam sapa kepada peserta, bermaksud melenturkan sepaneng. Selain itu, Anggitya berhasil menciptakan diskusi dan suasa menjadi hidup. Sehingga kegiatan berjalan cukup meriah.

Ini pertama kali Cedak Buku mengadakan Jagongan di bulan Ramadhan. Tampak lesu, namun tertutupi semangat menyebar literasi.

Pengtingya Literasi Parenting bagi Seorang Ibu yang Memiliki Anak

Buku berkisah seorang anak bernama Adam yang introvert sedang menginjak masa pubertas. Masa ini sering ditandai adanya gejolak biologis membuncah dalam diri anak. Namun, seorang Ibu luput memahami kondisi itu. Dan yang terjadi adalah kesalahpahaman berulang.

Pengawasan seorang Ibu dalam proses pendampingan masa tumbuh kembang anak sangat diperlukan. Ini bertujuan untuk meminimalisir kesalahan ucapan dan tindakan. Meski ini sulit terjadi, setidaknya agar kelak seorang anak memiliki karakter yang bagus dan jauh dari penyesalan.

Sara, sosok Ibu yang ditampilkan dalam novel Duri dan Kutuk terlihat sebagai Ibu yang menganggap tahu segalanya tentang Adam, namun, senyatanya tidak begitu. Justri tergolong masih minim dan tidak diimbangi literasi parenting.

Anggitya menyampaikan dalam acara jagongan#5 buku sore itu bahwa seorang Ibu perlu memahami literasi parenting, agar tidak salah cara mengasuh anak. Apalagi di era digital kemudahan dalam mengaskses sebuah informasi sangat mudah. Jika tanpa diimbangi pengetahuan yang cukup, maka yang terjadi adalah ketidakharmonisan.

Ini terjadi pada Adam yang hampir saben seminggu sekali melakukan eksploitasi atas tubuh Eva, tetangga barunya. Yang diintip setiap sedang mebersihkan tubuh dari kecambah.

Selain itu, anggitya menambahkan pergaulan anak era sekarang juga sangat bebas, batasan terlihat sangat kabur. Pengelolaan atas gejolak biologis belum mapan dipahami dan diterapkan dalam diri dan ruang publik, sehingga yang terjadi adalah pergaulan bebas.

Pemahaman yang belun matang ini tentu juga dibarengi dengan minimnya dampak timbal balik yang akan diterima, baik secara psikologi maupun sosial. Akhirnya berujung pada kecemasan dan ketakutan.

Karma Itu Ada dan Nyata

Setiap apa yang ditanam manusia, baik atau buruk pasti akan mendapatkan balasan. Namun, manusia tidak kuasa memprediksi seperti apa, ini rahasia Tuhan dan alam. Manusia hanya bisa menerima dan melakukan perubahan, secekil apapaun.

Dalam skala besar bisa kita amati dari bencana alam yang terjadi akibat kecerobohan dan nir tanggungjawab manusia, alhasil kehancuran menemuinya. Begitupun dalam skala kecil, jika dalam merawat tanaman yang kita pilih untuk membantu menghiasi halaman rumah tidak mendapat perlakuan baik, maka layu atau mati adalah jawabanya.

Anggitya menjelaskan tindakan Sara dan Adam atas Eva sebagai tetangga baru ini kurang ajar, mereka mengeksploitasi, mencurigai dan bahkan menghukum secara sosial. Padahal, tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Awalnya para keluarga dan tetangga mempercayai cerita yang berasal dari Sara, namun, lambat laun mereka mulai mengikis kepercayaan. Inilah karma itu ada dan nyata.

Aggitya menambahkan bahwa batasan itu sangat diperlukan, dan untuk mengetahuinya tidak ada yang pantas dipilih yakni bernama ajaran agama.

Moderator, Eka mengambil alih dan memprsilahkan para peserta urun sudut pandang atau bertanya. Peserta saling bergantian untuk menanggapi dan bertanya. Diskusi terjadi dan acara bedah buku semakin terasa hidup. Namun waktu tidak bisa ditipu sudah sampai ujung.

Akhir dari Jagongan buku Duri dan Kutuk ini ditutup dengan ibadah foto bersama, kemudian ngobrol ringan sembari menunggu azdan Maghrib berkumandang sebagai tanda waktu berbuka puasa.

admin
admin

seorang admin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *