Musim yang Melingkar

Barangkali manusia adalah makhluk yang selalu berusaha mencuri masa depan. Kita menciptakan kalender untuk menertibkan waktu, jam untuk mengukur gerak, dan teknologi untuk menebak apa yang belum terjadi. Kita ingin mengetahui kapan hujan turun, kapan kemarau berakhir, kapan benih harus ditanam, dan kapan hasil bumi dapat dipanen. Seolah-olah masa depan adalah sesuatu yang bisa kita panggil hanya dengan mengetuk pintu pengetahuan.

Namun, jauh sebelum internet ada di genggam tangan, dan pengetahuan mampu menampilkan prakiraan cuaca, para petani telah lebih dulu belajar membaca langit, tanah, tumbuhan, dan perilaku binatang. Mereka mengamati perubahan alam, mengingat, mencatat, serta membandingkan dengan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Dari hubungan panjang antara manusia dan alam itu, kita mengenal pranata mangsa.

Pranata mangsa, secara sederhana, berarti aturan musim. Ia merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang membagi siklus tahunan menjadi dua belas mangsa (mulai dari kasa hingga sada). Pranata mangsa bukan cuma perkara kapan menanam padi, melainkan juga bagaimana manusia belajar menempatkan dirinya di tengah perubahan alam.

Ada perbedaan mendasar antara mengetahui sesuatu dan hidup bersama sesuatu. Seorang peneliti mungkin dapat membaca data curah hujan. Tapi seorang petani, di sisi lain, melalui pranata mangsa bisa memahami datangnya musim melalui keadaan tanah atau perubahan tumbuhan. Keduanya memiliki caranya masing-masing untuk membaca alam, meskipun bahasa, instrumen, dan ruang pembuktiannya tidak selalu sama.

Pengetahuan semacam itu kerap kita sebut sebagai kearifan lokal. Ia terbentuk melalui proses panjang. Pranata mangsa menunjukkan bagaimana pengamatan terhadap siklus alam dapat diterjemahkan menjadi pedoman hidup. Pengetahuan mengenai perubahan musim membantu petani memperkirakan waktu pengolahan tanah, penanaman, dan panen. Dalam keadaan tertentu, pembacaan musim juga dapat membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kekeringan atau gangguan pertanian.

Mereka Ulang Pranata Mangsa

Barangkali kita terlalu lama membayangkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang bergerak dari kota menuju desa. Kita lupa bahwa sebelum seseorang menulis teori tentang tanah, ada orang yang terlebih dahulu mencangkulnya. Sebelum seseorang merumuskan perubahan iklim dalam angka, ada masyarakat yang merasakan perubahan itu melalui musim tanam yang bergeser dan hasil panen yang tidak lagi menentu.

Tentu saja, pengalaman tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang benar. Ingatan manusia dapat keliru, pengamatan dapat terbatas, dan keadaan alam dapat berubah. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk meniadakan pengetahuan lokal.

Mungkin persoalan terbesar pranata mangsa hari ini juga bukan terletak pada bagaimana cara kerja hitungnya, melainkan pada cara kita menentukan pengetahuan mana yang pantas dipercaya.

Dalam masyarakat modern, pengetahuan kerap memperoleh kewibawaan melalui gelar akademik, lembaga penelitian, perangkat teknologi, dan bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Semua itu memiliki fungsi penting dalam menjaga pertanggungjawaban ilmiah. Akan tetapi, ketika hanya satu jenis pengetahuan yang dianggap sah, pengalaman masyarakat yang tidak memiliki akses kepada lembaga-lembaga tersebut berisiko disisihkan.

Seorang petani dapat mengetahui bahwa tanahnya lebih cepat mengering daripada beberapa tahun sebelumnya. Ia dapat mengingat bahwa waktu menanam yang dahulu dianggap tepat kini menghasilkan panen yang lebih buruk. Namun, pengalaman itu mungkin tidak pernah masuk ke dalam perencanaan pembangunan karena tidak diterjemahkan menjadi laporan dan angka.

Masyarakat desa sering menghadapi perubahan lingkungan, tetapi suara mereka kerap diabaikan. Mereka lebih sering menjadi sasaran penyuluhan daripada dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, pengalaman lokal hanya “dipanggil kembali” ketika dibutuhkan sebagai ornamen kebudayaan.

Padahal, merawat pranata mangsa semestinya tidak berhenti pada upaya pendokumentasian yang nantinya sebatas arsip. Yang lebih penting ialah menjaga keberlangsungan praktik membaca alam yang melahirkannya. Jika pranata mangsa hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, kita mungkin hanya berhasil mempertahankan namanya sembari pelan-pelan kehilangan kegunaannya.

Meramal Masa Depan

Ada sesuatu yang ironis dalam hubungan manusia modern dengan alam. Kita memiliki semakin banyak perangkat untuk mengamati bumi, tetapi tidak selalu memiliki kesediaan untuk mendengarkannya. Kita mampu mengumpulkan data dalam jumlah besar, tetapi sering kali kesulitan membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan lingkungan tempat data itu berasal.

Pranata mangsa mengingatkan bahwa pengetahuan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan meramalkan sesuatu. Ia juga menyangkut cara manusia menata kehidupannya berdasarkan pemahaman terhadap dunia di sekelilingnya. Membaca musim berarti belajar mengenali batas. Menentukan waktu tanam berarti memahami bahwa kehidupan memiliki ritme yang tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak manusia. Menunggu panen berarti menerima bahwa usaha membutuhkan kesabaran dan bahwa hasil tidak selalu dapat dipastikan.

Dalam kehidupan masyarakat desa, pengetahuan tentang alam juga tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kebiasaan, bahasa, ingatan kolektif, dan hubungan antarmanusia. Karena itu, hilangnya pengetahuan lokal bukan sekadar hilangnya sebuah metode pertanian. Ia dapat berarti terputusnya hubungan antargenerasi, dan bisa jadi melemahnya kemampuan masyarakat untuk memahami perubahan di tempat tinggalnya sendiri.

Mungkin hari ini kita tidak sedang kekurangan pengetahuan. Kita hanya terlalu sibuk mencari pengetahuan di tempat-tempat yang dianggap “lebih tinggi”, sampai lupa bahwa sebagian darinya tumbuh di tanah yang kita pijak setiap hari.

Barangkali yang perlu kita pelajari kembali bukan semata-mata cara membaca tanda-tanda alam, melainkan cara menghargai orang-orang yang selama ini hidup dengan tanda-tanda itu. Sebab masa depan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Kadang-kadang, ia tumbuh dari ingatan lama yang perlu kita periksa kembali.

Rizki Amir
Rizki Amir

Hamba Kebudayaan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *